Mencari Teman Terbaik

“Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri dan dari keburukan amal-amal kita. Siapa yang Dia beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan maka tidak akan ada yang bisa memberinya hidayah (petunjuk). Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad g adalah hamba dan rasul-Nya.”

***

Well, judulnya adalah: Memilih Teman Terbaik (sudah tahu, hehe). Mengapa hal ini penting banget sampai-sampai disimpan sebagai materi awal? Karena manusia itu membutuhkan teman dan ia merupakan salah satu pintu hidayah dari Allah untuk setiap hamba-Nya. Kebayang dong, gimana kalo ternyata kita salah pilih teman? Bukan pintu petunjuk yang mengantarkan kita ke surga tapi malah pintu keburukan yang menuntun ke neraka. Na’udzubillah.

Jadi, supaya kita bisa tetap hati-hati menjaga hangatnya iman atau ingin berubah menjadi seorang wanita yang lebih baik maka kita harus pastikan bahwa teman-teman di sekeliling kita adalah teman-teman terbaik di pandangan Allah. Sudah sampaikah padamu sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam tentang anjuran berteman dengan orang-orang baik? Itu loh yang ibarat berteman dengan tukang parfum? Bukankah kita pun akan merasakan wanginya?

Diriwayatkan oleh Abu Musa radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan berteman dengan orang shalih dan berteman dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap.” Hadits shahih Muslim No. 4762, Kitab 44 [Kebajikan, Silaturahmi, dan Adab Sopan-Santun], Bab 22 [Anjuran Mempergauli Orang-Orang Shalih dan Menjauhi Teman-Teman yang Jahat]

Selanjutnya muncul deh beberapa pertanyaan, bagaimana kita bisa mencari teman terbaik yang dapat membimbing kita menjadi lebih baik? (*dalam hal ini, baik yang dimaksud adalah baik menurut Allah). Apa saja kriteria-kriteria yang ada pada diri seseorang sehingga layak untuk kita jadikan teman terbaik? Nah, udah ga sabar? Sabar ya, insyaa Allah bisa dibaca kok, semoga dimudahkan :)

Dikutip dari ceramah Ustaz Adi Hidayat, jika kita hendak mencari teman atau memiihkan teman untuk seseorang maka pilihlah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria baik sesuai yang Allah pilih. Gimana cara tahu baiknya?

Perlu disepakati dulu nih, teman terbaik itu adalah teman yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita sebagai temannya. Jadi jika ada seorang teman yang menunjukkan ibadah, suka mengajak kita pada kebaikan maka pada hakikatnya dia itu teman terbaik. Di dalam Al Qur’an disebutkan bahwa teman-teman terbaik itu adalah orang-orang yang bertaqwa. Lalu siapakah orang-orang yang bertaqwa itu?

1

“Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Al Qur’an yg diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat. Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Al Baqarah (2): 3-5

Parameter pertama: Dia adalah seorang muslim terbaik!

Diantara orang-orang muslim, manakah sebaiknya yang kita pilih sebagai teman?

Allah mengatakan di dalam potongan ayat Al Baqarah di atas tentang orang-orang yang bertaqwa, yang pertama disebutkan: mereka yang beriman kepada yang ghaib. Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, yang dimaksud ghaib dalam hal ini adalah Allah subhanahu wa Ta’ala. Disebut ghaib karena memang tidak nampak. Kalau sesuatu yang nampak dan dapat ditangkap oleh alat indera kita, itu disebutnya ilmu. Kalau kita belum lihat, tapi benar-benar yakin tentang keberadaannya, maka itulah yang disebut sebagai iman.

Perhatikan, orang yang terbaik kata Qur’an adalah orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa Ta’ala, tapi kata imannya dalam hal ini menggunakan kata “yu’minuun” (perhatikan tulisan Arabnya di Qur’an ya guys). Apa istimewanya kata “yu’minuun” itu? Hmm perlu diketahui nih, di dalam Al Qur’an itu ada tiga bentuk kata iman.

  1. Aamanu (bentuk tunggalnya: aamana) = pemilik iman dalam tingkatan yang standar. Jadi jika seseorang telah mengucapkan syahadat, masuk islamlah dia. Maka di dalam Al Qur’an mereka dipanggil dengan sebutan “aamanu”. Orang-orang yang telah masuk Islam ini kemudian diperintahkan untuk mempraktekan semua tuntunan syariat dalam Islam secara kaaffah (total, tidak tanggung-tanggung dan tidak terpisah-pisah). Oleh karenanya surah Al Baqarah ayat 208 turun. Kalau shalatnya rajin tetapi akhlaqnya buruk berarti dia belum mempraktekan Islam secara total.
  2. Yu’minun = pemilik iman dalam tingkatan di atas standar.
  3. Al Mu’minuun (tunggal: mu’min)

Tingkat keimanan yang standar itu diilustrasikan “tepat pada waktunya”. Misal seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan yang jam masuk kerjanya adalah jam 8. Seseorang dengan iman yang standar berarti ibarat karyawan yang datang ke kantornya tepat jam 8. Kalau ada seorang karyawan datang lebih awal dari waktu masuk, jam setengah delapan saja, nah itu yang di atas standar. Kalau lebih dari jam 8, maka dia adalah karyawan yang bermasalah/di bawah standar.

Jadi, misal tepat saat ada adzan Dzuhur jam 12:01, kemudian kita baru datang ke masjid untuk melakukan shalat, atau kalau di rumah baru wudhu saat adzan berkumandang untuk melakukan shalat, nah itu adalah keimanan standar. Tetapi jika jam 11:30 sudah siap-siap wudhu, duduk sambil menunggu adzan, berdzikir atau shalat tahiyatul masjid jika di masjid, dan tilawah/membaca Al Qur’an. Maasyaa Allaah, itulah orang-orang yang keimanannya sedang di atas standar. Tetapi ada pula orang yang pada jam 12:30 atau bahkan jam 13:30 baru kepikiran shalat, nah itu keimanannya sedang di bawah standar pada hal yang tidak wajar.

Kemudian, kalau kita selalu ingin meningkatkan lagi, mohon maaf, misal kemarin shalatnya baru 3 waktu, sekarang mulai 5 waktu. Kemarin misal bagi laki-laki yang ke masjidnya cuma 2 waktu, sekarang ingin 5 waktu. Kemarin shalat fardhu aja, sekarang ditambah shalat sunnah. Maka kata “aamaanu” berubah menjadi “yu’minuun”.

Jadi, kalau dirimu ingin mencari teman atau pasangan hidup yang baik :D, mencari teman kerja yang baik, tetangga yang baik, maka kata Qur’an, cari yang di atas standar dikit, “yu’minuun”. Kalau “aamaanu”, semua banyak yang ngaku-ngaku beriman. Ada yang mengatakan “saya beriman”, tapi barangkali jarang shalat. Kalau dikatakan beriman, lisannya memang beriman. Statusnya muslim, orang Islam, kalimat syahadat bisa mengucapkan, maasyaa Allah lengkap semua persyaratannya. Tapi, kalau diminta shalat agak susah misalnya, atau baca Al Qur’an-nya agak sulit. Nah, itu belum masuk kepada kadar yang terbaik. Kalau kita ingin cari teman yang terbaik, kata Qur’an, di antara orang-orang Islam cari yang “yu’minuun”, cari yang imannya lebih bagus.

Parameter kedua: Dia termasuk orang-orang yang menunaikan shalat dengan sempurna

Kalau misalkan kelihatan ada yang sama, sama-sama muslim dan tingkat imannya sedang di atas standar, pilih yang mana? Ada lagi ukurannya? Ada.

Perhatikan potongan ayat selanjutnya, “wayuqiimuunash shalaata”.

2

Shalat-nya dalam hal ini tertulis sebagaimana terlihat di atas, yaitu dengan adanya huruf ‘wau’ setelah ‘lam’ dan sebelum ‘ta’. Apa uniknya guys? Hmm ternyata shalat itu bisa ditulis dalam dua cara, pertama seperti ditunjukkan pada gambar di atas dan yang kedua seperti ini:

3

Perhatikan perbedaannya. Kalau ditulis seperti yang kedua (shad, lam-alif, ta), walau dibacanya sama, “ash shalaah”, itu bentuknya hanya tunggal/singular, yang berarti cuma satu. Jadi baik dari segi tulisan ataupun makna, cuma satu.

Tapi kalau ditulis dengan huruf ‘wau’ sebagaimana ditunjukkan pada gambar pertama, ia mempunyai makna ganda. Tulisan dalam bentuk yang kedua ini menggabungkan antara satu dengan banyak. Jadi bisa berarti singular/tunggal, bisa berarti jamak. Kenapa kata shalat dalam ayat kedua Al Baqarah itu bisa dibaca tunggal dan jamak? “wayuqiimuunash shalaah” = tunggal, atau bisa juga dibaca dengan “wayuqiimuunash shalaawat” = jamak, seperti pada ayat ke-238 pada surah yang sama.

4

“Jagalah oleh Anda, waktu-waktu shalat…” dalam hal ini shalatnya dalam bentuk jamak. Perhatikan, bagaimana maasyaa Allah keindahan bahasa Qur’an itu. Dalam tulisan pun dicari tulisan yang dapat merangkumnya

Sekarang jawabannya, kenapa kata shalat dalam ayat kedua Al Baqarah itu bisa dibaca tunggal dan jamak? Hal ini seakan-akan ingin memberikan pesan kepada kita, karena shalat yang diturunkan oleh Allah, diwajibkan kepada kita, itu bentuknya bukan satu tapi ada banyak. Coba sebutkan, ada berapa shalat yang pokok/wajib? Ada lima. Kita bisa lihat pada surah Al Isra’ (17) ayat ke-78.

5

Ada lima waktu, dari mulai tenggelamnya matahari, tergelincir sampai malam sampai terbit fajar kembali. Yaitu ada shalat Maghrib, Isya, Shubuh, Dzuhur dan Ashar. Yang paling menarik, ini yang paling indah :), bisa dibaca jamak karena memang perintah shalatnya ada banyak dan bisa dibaca tunggal “shalah” karena ketika diminta menunaikan, kata Qur’an jaga semua shalat yang lima waktu itu, kalau tidak bisa jama’ah, Anda harus menunaikannya walaupun sendirian (lihat Al Baqarah ayat 238).

Maka teman terbaik, selain dia bisa meningkatkan imannya, yang pertama kali dia bisa menjaga waktu shalatnya, sekalipun tidak bisa berjama’ah. Misal pada saat adzan, dia ga bisa ke masjid, tetapi dia minta ijin untuk shalat dulu, nah itu orang baik itu. Jadi kalau kita mau mengukur tingkat keimanan seseorang, atau diri kita, yang paling dasar itu shalatnya. Kalau shalatnya sudah bagus, yang lainnya akan mengikuti.

Tapi yang paling menarik, kalau kamu menemukan orang yang selalu menjaga jama’ahnya maka itu yang paling hebat. Karena itu kalimat shalat-nya dalam ayat kedua Al Baqarah itu diapit oleh kata “yuqiimuun”. Kalimat “yuqiim” itu sama dengan kalimat “aqaama” atau “aqiimu” yang artinya sempurna. Jadi ada isyarat di dalam Al Qur’an, kalau kita menunaikan shalat itu mesti berusaha menunaikannya dengan sempurna. Wah hati-hati nih.

Bahkan sebelum shalat, ada isyarat yang namanya udah kita kenal betul: “iqamah”. Itu sebenarnya sebuah isyarat agar ketika kita mau shalat, kita siapkan diri kita supaya sempurna shalatnya. Lalu bagaimana kesempurnaannya itu? Ini bisa masuk ke pembahasan lain tentang kesempurnaan shalat ya.

Tapi ada satu kata kunci yang terikat, kata Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam, dari hadits riwayat Bukhari no.631, “Shalatlah kalian persis seperti kalian melihat saya shalat.”

Mohon maaf, kita saling mengingatkan saja ya. Zaman Nabi saja, ada seseorang yang datang ke masjid An Nabawi kemudian shalat. Ketika selesai, kata Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam, “Silahkan Anda shalat lagi karena Anda belum shalat.” Tiga kali diulang begitu. Sampai ketiga dia (orang itu) mengatakan, “Yaa Rasulullah, saya tidak tahu lagi bagaimana saya harus shalat. Tolong ajarkan kepada saya bagaimana saya harus shalat?” Lalu diajarkan oleh Nabi dari awal sampai akhirnya. Diberi bab oleh Al Bukhari, nomor hadits 757, dan hadits Muslim 397, Bab “Orang yang Shalatnya Tidak Bagus”.

Kita bayangkan: seorang sahabat, hidup sejaman dengan Nabi, shalat di samping Nabi, oleh Nabi diluruskan, shalatnya tidak tepat. Diajarkan lagi oleh Nabi, dan dia mau belajar. Ada orang bukan sahabat, surganya belum jelas, hisabnya menegangkan, amalan berantakan, tetapi merasa aman dengan shalatnya?

Maka setelah selesai mengajarkannya, Nabi mengatakan, “shalatlah kalian persis sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Jadi kalau kita mau menunaikan shalat yang sempurna, maka carilah ilmu terlebih dahulu, bagaimana tata cara shalat sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Memang harus belajar dulu, tidak perlu malu. Karena kita tidak pernah melihat Nabi, maka kita harus bertanya kepada orang-orang yang pernah meihat Nabi shalat di jamannya. Bagaimana cara berwudhu-nya? Bagaimana cara niatnya Nabi, apakah harus ada kata-kata khusus? Bagaimana cara takbiratul ihramnya? Bagaimana cara berdirinya? Diatur kakinya, bagaimana menghadapnya, melipat di tangannya? Apa yang diucapkan? Bagaimana do’a iftitah-nya? Tahu darimana? Ada semuanya dijelaskan dalam hadits.

Kalau shalat, memang kita harus berusaha sempurna. Tetapi dalam hal ini poinnya bukan di situ. Kalimat “yuuqiim” ditambah dengan kalimat “uun” yang “uun” itu menunjuk pada kata jamak. Jadi kalau ada kalimat yang di belakangnya ada imbuhan “uun” maka itu menunjukkan makna banyak. Seperti:

Mu’min = 1 orang mu’min

Mu’minuun = banyak mu’min

Jadi ketika “yuqiim” disandingkan dengan “uun” maka menunjukkan pada dua makna,

  1. Dengan shalat berjama’ah itu akan lebih menyempurnakan kualitas shalat kita dibandingkan dengan shalat sendirian.
  2. Sesuai dengan pembahasan kita tentang teman terbaik, jika ada orang yang bagus imannya dan senang shalat maka orang-orang yang senang menjaga jama’ahnya itulah yang paling hebat.

Jadi jika seorang ibu hendak memilihkan teman untuk anaknya, maka pilihkanlah seorang teman yang setidaknya dapat menjaga jama’ahnya. Atau kalau bapak-bapak di kantor, coba lihat, teman-teman yang mengajak shalat berjama’ah di kantor, nah itulah teman terbaik.

Review sampai disini:

Hidup kita tidak sendiri. Kita akan bergaul dengan orang-orang. Supaya kita bisa menjadi baik maka carilah orang-orang terbaik. Yang pertama adalah orang yang beriman. Cari yang dia menjaga kualitas keimanannya. Karena jaman sekarang kita sering temukan, pagi-pagi dia beriman, sore-sore dia ingkar. Bahkan ingkarnya itu bisa ingkar jama’ah karena mengajak orang lain untuk ingkar. Bisa dibayangkan, ada orang yang mengatakan di depan banyak orang, bahkan di depan televisi, dia menulis juga dengan tangannya, “Semua agama itu sama, menuju Tuhan yang sama. Cuma yang beda-beda adalah caranya.” Itukan luar biasa mengajak ingkar jama’ah. Hati-hati, itu bukan orang baik.

Dari yang sekian banyak ini, kemudian lihat orang-orang yang menjaga shalatnya. Kalau ada lagi, coba lihat yang rutin dalam jama’ahnya.

***

Parameter ketiga: Dia suka berinfaq dalam keadaan lapang maupun sempit

Nah, kalau ada yang sama-sama rajin shalat, mana yang kita pilih sebagai teman terbaik jika diharuskan memilih? Teruskan ayatnya.

6

Dia adalah orang yang senang berinfaq. Apa itu infaq? Hmm hati-hati ya. Di dalam Al Qur’an itu, ada infaq, ada zakat, dan ada shadaqah. Dalam kriteria teman terbaik/orang yang bertaqwa itu yang disebutkan infaq, bukan zakat, bukan juga shadaqah. Kalau zakat sifatnya wajib dan hanya dimiliki oleh orang tertentu. Kalau shadaqah bisa dilakukan oleh siapapun. Kalau infaq berbeda. Lihat kaidahnya di surah Aali ‘Imraan (3) ayat 133-134.

7

Yuk kita sama-sama segerakan istighfar, dan berharaplah bisa pulang ke akhirat dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Maasyaa Allah, luar biasa ya nikmat surga itu. Pada ayat 133, siapa orang bertaqwa yang dimaksudkan? Perhatikan ayat 134-nya. Jika harus memilih di antara orang yang muslim, sudah menjaga kualitas keimanannya, dan menjaga shalatnya, maka pilihlah orang yang dia suka berinfaq di waktu lapang maupun sempit. Maksudnya walau sedang sulit pun masih mau membantu juga.

Jadi ukuran infaq ini kata Qur’an, teman terbaik itu selain rajin kelihatan shalatnya, dia juga suka berinfaq dalam suka maupun dukanya. Jadi kalau ada seseorang yang rajin shalatnya, tetapi membantu dalam keadaan suka saja dan tidak membantu saat kondisi sempit, maka ukurannya sedikit di bawah, belum begitu baik. Orang yang suka berinfaq walaupun dia sendiri sebenarnya dalam keadaan sulit dan membutuhkan maka itulah orang yang paling bagus, teman terbaik.

Sudah sampaikah kabar kepadamu tentang orang-orang Anshar? Kaum Anshar adalah setiap orang yang percaya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa Sallam dari kalangan suku Aus dan Khazraj. Dalam sebuah hadits shahih Bukhari:

Anas berkata, Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda: “Ciri iman adalah mencintai kaum Anshar dan ciri kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” Hadits shahih Bukhari No. 4762, Kitab 2 [Iman], Bab 9 [Tanda Keimanan Ialah Mencintai Kaum Anshar]

Hal ini disebabkan, tiada yang mencintai orang-orang Anshar melainkan orang-orang yang beriman dan tiada yang membenci mereka melainkan orang munafik, sebagaimana hadits berikut.

Al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu’alayhi wa Sallam bersabda: “Tiada yang mencintai orang-orang Anshar melainkan ia mukmin dan tiada yang membenci mereka melainkan ia munafik. Siapa yang mencintai mereka, Allah cinta kepadanya. Dan siapa yang membenci mereka, Allah benci kepadanya.” Hadits riwayat Bukhari, Kitab 63 [Perangai Orang-Orang Anshar], Bab 4 [Mencintai Orang-Orang Anshar]

Disebut demikian karena mereka (orang-orang Anshar) telah menolong dan membantu Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam, khususnya saat beliau dan para sahabat hijrah dari Mekah ke Madinah. Selain itu, dikatakan pula bahwa orang-orang Anshar ini memiliki sifat yang disukai Allah, yaitu mereka suka berinfaq dengan harta terbaik mereka, sekalipun mereka sendiri sebenarnya sedang membutuhkannya. Bahkan sampai diabadikan oleh Allah subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an surah Al Hasyr (59) ayat ke-9.

8

Kaum Anshar itu dipuji oleh Qur’an di dalam surah Al Hasyr tersebut karena infaq-nya bukan karena shalatnya. Al Hasyr itu artinya perhimpunan di akhirat nanti. Orang-orang nanti dihimpun di hari Kiamat dengan membawa kebanggaan amalan masing-masing. Bayangkan, ada orang yang sedang kehausan datang, lalu tiba-tiba disambut oleh orang yang membawa minuman. Yang lapar, disambut oleh orang yang membawa makanan. Padahal yang membawa minuman itu sendirinya juga sedang haus, tapi dikasih ke orang. Yang sedang lapar pun menerima makanan dari orang yang sedang membutuhkan makanan. Ada sebuah hadits yang menggambarkan sifat mereka (kaum Anshar) yang suka berinfaq ini :) (keren banget kisahnya aku suka….)

Hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang lelaki datang menemui Rasulullah shallalalhu ‘alayhi wa Sallam lalu berkata:”Aku sangat menderita.” Rasulullah shallallahu’alayhi wa Sallam bertanya kepada salah seorang istri beliau, tetapi mendapat jawaban: “demi Zat yang mengutusmu membawa kebenaran, aku hanya mempunyai air.” Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam bertanya kepada istri beliau yang lain tetapi mendapat jawaban yang sama. Dan semua istri beliau memberikan jawaban yang sama: “Tidak, demi Zat yang mengutusmu membawa kebenaran! Aku tidak mempunyai apapun selain air”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam mengumumkan: “Siapakah yang mau menjamu orang ini, semoga Allah merahmatinya.” Seorang sahabat dari Anshar berdiri dan berkata: “Aku wahai Rasulullah!” Lalu diajaknya orang itu ke rumah.

Sahabat Anshar itu bertanya kepada istrinya: “Apakah kamu mempunyai sesuatu?” Istrinya menjawab: “Tidak, kecuali makanan anak-anakku.” Sahabat itu berkata: “Alihkanlah perhatian mereka dengan sesuatu. Nanti kalau tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita sedang makan. Apabila ia hendak makan, maka hampirilah lampu dan matikanlah.” Mereka pun duduk, sementara tamu mereka makan.

Pada keesokan harinya, ketika bertemu Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda: “Allah benar-benar kagum terhadap perbuatan kalian berdua kepada tamu kalian tadi malam.” Hadits shahih Muslim No. 3829, Kitab 36 [Minuman], Bab 24 [Menghormati Tamu dan Keutamaan Mempersilakannya]

Ternyata semalaman itu, keluarga itu menahan lapar cuma untuk memuliakan tamunya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Bukankah telah nampak keluarga ahli surga? Dirinya sedang membutuhkan makanan, ditahan sampai semalaman, karena yang penting tamunya bisa makan. Bisa dibayangkan.

Lalu tanyakan pada diri kita sendiri, kita ada dimana? Ada orang yang belum jelas surganya, tidak tahu bagaimana bentuk hisabnya, Allah sudah kirimkan amal shalih di hadapannya, masih belum dikerjakan juga. Memang shalatnya rajin ke masjid, tapi ketika Allah kirimkan banjir supaya dimunclkan nilai infaq-nya, dia cuma bisa menonton, direkam, dikirim berita, pasang status. Padahal dia pahami, dia shalat. Yaa Allah, apa yang kurang?

Harus ada sesuatu yang nampak dalam kehidupan kita. Kalau kamu ingin mencari teman terbaik, carilah dia yang hadir di sekitar kita. Dia shalatnya bagus, dan juga bisa membantu kita dalam keadaan sulit, atau membantu mengarahkan kita pada hal kebaikan.

Teman terbaik yang memiliki kriteria ini, maka dia tidak akan meninggalkanmu dan akan membantumu walau sebenarnya dia pun dalam keadaan sulit. Tapi bukan berarti kita mau memanfaatkan kebaikan mereka demi kepentingan pribadi ya, nanti kita jadi menzalimi mereka. Bukan itu maksudnya, melainkan agar kita bisa meniru perbuatan mereka yang dicintai Allah subhanahu wa Ta’ala.

Parameter ke-empat: Dia suka berinteraksi dengan Al Qur’an

Lebih seru lagi, adakah teman yang lebih baik diantara seorang muslim yang menyempurnakan shalat dan suka berinfaq? Jika ada banyak pilihan teman yang baik, maka teman terbaik diantara teman-teman yang baik itu adalah seseorang yang suka berinteraksi dengan Al Qur’an.

9

Kalau ditemukan orang yang suka menjaga shalatnya, dia orang terbaik. Plus shalat dengan infaq maka itu lebih terbaik. Bila dia juga menjadi seorang pencinta Al Qur’an, maka dialah yang paling baik. Maasyaa Allah.

Entah itu membacanya, entah itu men-tilawah-inya, mempelajari maknanya, atau hanya sekadar menghafalkannya. Jadi kalau ditemukan seseorang dengan seluruh kriteria ini maka itulah orang terbaik yang bisa membimbing kita pada kebaikan.

Review sampai disini:

Tapi ingat betul ya. Semua itu, ke-empat-empatnya dilakukan untuk kepentingan akhirat bukan untuk kepentingan dunia. Jadi ketika dia shalat, bukan shalat untuk menarik perhatian saja.

Jadi kalau sudah ditemukan seorang teman dengan kriteria-kriteria tersebut, segera dekati, jangan ditinggalkan. Ada seseorang yang rajin shalatnya, suka berinfaq, rajin juga baca Qur’annya, senang datang ta’lim, maka pada hakikatnya Allah sedang mengantarkan kepada kita teman terbaik untuk mengajak kita pada kebaikan. Jangan ditinggalkan karena tidak mudah menemukannya, itu sumber kebahagiaan.

Tentu dengan langkah yang baik ya, kalo bisa yang sesama wanita aja, kalo sama yang laki-laki nanti dikhawatirkan akan muncul fitnah. Boleh, asalkan tidak berlebihan atau tidak sedekat dengan teman wanita, hanya sekadar teman yang dipantau dari jauh tentang kebaikannya dan diniatkan sebagai cermin, artinya hanya untuk mengambil ilmu yang bermanfaat darinya. Atau jika dalam maksud mencari pasangan hidup, memilih seorang laki-laki dengan kriteria-kriteria teman terbaik ini justru dianjurkan.

‘Karena itu di dalam pembukaan surah Al Baqarah tentang orang-orang bertaqwa/teman terbaik, ditutup dengan ayat ke-5 nya sebagai berikut:

10

Kalau kita sudah menemukan teman-teman terbaik kemudian saling mengisi dalam kebaikan maka yang pertama kata Allah:

“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Al Baqarah (2): 5

Ada kalimat yang hanya mengandung “hudan” saja ada yang “’alaa hudan”. Keduanya memiliki makna yang tidak sama. Kalau “hudan” saja itu berarti diberi petunjuk. Tetapi kalau “’alaa hudan” itu berarti selalu dinaungi petunjuk. Kalau “hudan”, misal minta sekarang, diberikan maka selesai. “Yaa Allah tolong mudahkanlah urusanku.” Kemudian diberikan oleh Allah saat itu saja, selanjutnya belum tentu diberikan. Itu “hudan” namanya. Kita mau berangkat, ternyata sedang hujan. Sampai di depan ada ojek payung, dikasih payung. Selesai itu dibayar, tidak dapat lagi payungnya. Itulah “hudan”. Setelah naik angkot, turun angkot, kena hujan juga, ojek payung sudah tidak ada.

Tapi kalau “’alaa hudan”, kemanapun akan diiringi. Jadi jika ada orang-orang yang maasyaa Allah mendekat kepada Allah demi kepentingan akhiratnya, lalu kemudian dia juga mempunyai teman-teman yang baik yang mendekatkannya dengan Allah, meningkatkan imannya. Maka komunitas ini akan dijaga oleh Allah subhanahu wa Ta ‘ala. Tingkatkan iman, naikkan taqwa, maka maasyaa Allah keberkahan akan dibuka oleh Allah. Selalu dinaungi dalam kebaikan. Dalilnya adalah Al Qur’an, surah Al-A’raaf (7): 9.

11

Kemudian yang paling hebat,

12

hidupnya pasti akan selalu bahagia. Jadi setelah mengetahui hal ini, prakteknya, jangan menilai ke orang-orang di luar dulu, tapi lihatlah ke dalam diri sendiri baru kemudian keluarga sendiri dulu. Apakah sudah bisa menjadi teman terbaik? Apakah masalah belum kunjung beres juga? Jangan-jangan di dalam keluarga kita ada orang-orang yang belum bisa melakukan shalat dengan baik, ada akhwat yang belum memakai hijab, ada anak yang belum bisa baca Al Qur’an.

Ada suatu amalan yang bisa kita kerjakan bersama-sama, menjelang subuh, satu keluarga duduk bersama-sama. Beristighfar kemudian saling mengevaluasi diri dan meminta maaf karena barangkali tidak bisa hidup di esok hari. Malam ini bangun, bangunkanlah yang lain. Nabi saja membangunkan menantunya, membangunkan putrinya. Maka sepatutnya kita pun meningkatkan amal shalih kita.

Maka, jadilah teman yang baik dan pilihlah teman terbaik untuk menjaga hangatnya iman. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah untuk terus diberikan hidayah dan taufiq-Nya karena belum tentu diwafatkan dalam kondisi yang baik walau pada saat ini kita sudah berusaha berada di jalan yang baik.

***

 

“Maha suci engkau, yaa Allah, dan aku memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak yang diibadahi dengan benar kecuali Engkau, serta aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s