Kekuatan Doa

8e220e82feb765805e0bacbb3d56f142

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.  (QS. Al Baqarah (2): 186)

Pengantar: Indahnya Majelis Bersama Para Malaikat

“Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan dari keburukan amal-amal kita. Siapa yang Dia beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan maka tidak akan ada yang bisa memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.”

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, kita dapat berkumpul bersama di sini, di dalam majelis ilmu yang insyaa Allah bermanfaat. Walaupun jika dilihat, memang majelis ilmu Allah ini sepi dari peminat manusia, tetapi sesungguhnya ini adalah majelisnya para malaikat. Di salah satu hadits shahih yang diriwayatkan Bukhari, diberitakan tentang malaikat-malaikat yang memenuhi majelis ilmu untuk mengingat Allah. Ini bisa Sahabat periksa di situs berikut: http://app.lidwa.com/

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang selalu berkeliling di jalan-jalan, dan mencari-cari majelis Dzikir. Jika mereka mendapati suatu kaum yang berdzikir kepada Allah mereka saling memanggil; “Kemarilah terhadap apa yang kalian cari.” Lalu mereka pun datang seraya menaungi kaum tersebut dengan sayapnya sehingga memenuhi langit bumi. Maka Rabb mereka bertanya padahal Dia lebih tahu dari mereka; “Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku?” Para malaikat menjawab; “Mereka mensucikan Engkau, memuji Engkau, mengagungkan Engkau.” Allah berfirman: “Apakah mereka melihat-Ku?” Para malaikat menjawab; “Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.” Allah berfirman: “Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?” Para malaikat menjawab; “Sekiranya mereka dapat melihat-Mu pasti mereka akan lebih giat lagi dalam beribadah, lebih dalam mengagungkan dan memuji Engkau, dan lebih banyak lagi mensucikan Engkau,” Allah berfirman: “Lalu apa yang mereka minta?” Para malaikat menjawab; “Mereka meminta surga.” Allah berfirman: “Apakah mereka telah melihatnya?” Para malaikat menjawab; “Belum, demi Allah mereka belum pernah melihatnya.” Allah berfirman: “Bagaimana sekiranya mereka telah melihatnya?” Para malaikat menjawab; “Jika mereka melihatnya tentu mereka akan lebih berkeinginan lagi dan antusias serta sangat mengharap.” Allah berfirman: “Lalu dari apakah mereka meminta berlindung?” Para malaikat menjawab; “Dari api neraka.” Allah berfirman: “Apakah mereka telah melihatnya?” Para malaikat menjawab: “Belum, demi Allah wahai Rabb, mereka belum pernah melihatnya sama sekali.” Allah berfirman: “Bagaimana jika seandainya mereka melihatnya?” Para malaikat menjawab: “Tentu mereka akan lari dan lebih takut lagi.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku telah mempersaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: “Salah satu dari malaikat berkata. “Sesungguhnya di antara mereka ada si fulan yang datang untuk suatu keperluan?” Allah berfirman: “Mereka adalah suatu kaum yang majelis mereka tidak ada kesengsaraannya bagi temannya.” Hadist Shahih Bukhari, No.5929, Kitab: 60 (Do’a), Bab: 3405 (Keutamaan mengingat Allah Azza wa Jalla)

Betapa besarnya manfaat duduk di majelis yang isinya mengingat Allah. Sekiranya setiap pemuda memahami ini, betapa indahnya setiap usaha yang dilakukan untuk hadir di majelisnya para malaikat. Maka jadilah manusia langit yang dirindukan barisan cahaya, artinya jadilah manusia yang namanya disebut-sebut oleh para malaikat di langit lantaran Allah mencintainya. Dan apabila dia meninggal dunia, maka ruhnya akan disambut dan direbut oleh banyak malaikat di langit karena harumnya ruh tersebut :)

Sahabat, nikmat Iman Kepada Allah ini adalah nikmat yang terbesar yang Allah berikan kepada kita, umat muslim. Dan nilai iman ini, tidak ada yang mengetahuinya kecuali iblis, setan dan orang yang telah meninggal dunia. Mengapa demikian? Setiap manusia yang telah memiliki iman kepada Allah di hatinya, akan digoda oleh iblis dan teman-temannya. Visi mereka adalah: “bagaimana caranya supaya iman seseorang itu hilang dari hatinya ketika dia meninggal dunia?” Mereka, para setan itu tahu persis, iman itulah yang akan menyelamatkan manusia dari siksa api neraka yang kekal. Maka sedapat mungkin, setan mengajak manusia itu untuk tinggal bersama mereka kekal di dalam neraka (na’udzubillah). Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda? Tentang nilainya iman ini di mata Allah, dan kelak setiap orang yang beriman akan merasakannya (*nilai iman yang dimaksud ini adalah nilai iman yang murni, tidak tercampur oleh kesyirikan).

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Keluarkan dari neraka siapa yang di dalam hatinya ada iman sebesar biji sawi”. Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan ke dalam sungai hidup atau kehidupan (Malik ragu). Lalu mereka tumbuh bersemi seperti tumbuhnya benih di tepi aliran sungai. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana dia keluar dengan warna kekuningan.” Hadist Shahih Bukhari, No.21, Kitab: 2 (Iman), Bab: 14 (Bertingkat-tingkatnya ahlul imam dalam amalan)

Sahabat, semoga kita termasuk orang-orang yang melakukan amal ibadah di atas keyakinan yang kuat yaa, sehingga kita bisa mendapatkan balasan surga dan tidak diadzab di dalam kubur.  Dan tidak ada yang dapat memperoleh hidayah (petunjuk) kecuali dengan ijin Allah. Maka sudah sepantasnya kita tidak hanya berusaha bertawakkal kepada Allah untuk menjadi baik, tetapi juga: berdoa kepada Allah supaya kita bisa tetap berada di jalan yang lurus. Yaa Rabb, ihdinasshiraatal mustaqiim.

Orang yang telah meninggal dunia, maka dinding batasan dengan dunia ghaib terbuka. Telah nampak di hadapannya sosok malaikat maut yang selama ini dia tidak bisa lihat. Maka ketika itu, manusia akan teringat apa yang telah dilakukannya dan apa yang telah dilalaikannya. Dia pun akan mengetahui nilai iman yang sesungguhnya. Jika dia orang yang beriman, sungguh beruntunglah dia karena itulah waktu istirahatnya dimulai, ibaratnya: tinggal metik hasil panen selama hidupnya. Tetapi jika dia orang yang tidak beriman (kafir) atau termasuk orang yang beriman tetapi telah berbuat dosa dan belum sempat bertaubat, tentulah dia termasuk orang yang merugi karena itulah waktu dia akan memperoleh siksaan yang pedih dan berat :( (na’udzubillah)

Yakinlah: bahwa Allah itu benar. Rasul-Nya adalah benar. Surga dan neraka adalah benar. Setiap amal perbuatan itu tercatat, baik yang kecil maupun yang besar. Dan setiap amal itu akan dibalas dengan sebaik-baiknya balasan.

Allah sayang sama kita, syukuri nikmat iman ini dengan menaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Selama masih ada waktu, selama itulah masih ada kesempatan untuk bertaubat :)

Senjata Orang Beriman: Do’a

Do’a itu intinya adalah menampakkan ketidakmampuan kita. Do’a kepada Allah berarti, meminta kepada Allah dengan menampakkan ketidakmampuan kita di hadapan-Nya. Sebagai seorang hamba, tentu kitalah yang sangat membutuhkan Allah. Tetapi Allah, Dia tidak membutuhkan kita sedikitpun. Allah tidak akan bertambah besar jika kita memujinya dengan kalimat Takbir. Allah bukan suci dengan kita mengucapkan kalimat Tasbih. Tidak. Allah sudah mulia dan akan terus mulia walau seluruh makhluknya membangkang. Sungguh, kitalah yang membutuhkan Allah.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memerintahkan hamba-Nya agar berdoa kepada-Nya, dan berjanji akan mengabulkannya. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

َقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. (QS. Al-Ghafir (40): 60)

Cukuplah beberapa sejarah membuktikan kehebatan do’a ini. Seperti kisah saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa agar diturunkannya hujan, padahal di Madinah sedang mengalami musim paceklik yang panjang dan Allah langsung mengabulkannya saat itu juga. Juga kisah tiga orang yang terperangkap di dalam gua. Do’a para Nabi ketika disudutkan oleh kaum-kaumnya yang membangkang. Bahkan dirimu, Sahabat, pasti mempunyai sejarah yang membuktikan tentang kehebatan do’a di dalam hidupmu, kan ya? :)

Bukankah suatu nikmat bila kebutuhan kita ini justru dijadikan sebagai amal ibadah? Yang apabila kita melaksanakannya, kita akan memperoleh balasan pahala. Analoginya seperti orang yang membutuhkan makanan, lalu ada sebuah aturan di dalam perusahaan tempat dia bekerja: seseorang harus makan dan apabila dia makan maka dia akan mendapat bonus tambahan gaji tetapi apabila dia tidak makan maka akan terkena ancaman dipecat. Bukankah ini tawaran yang menggiurkan dan menguntungkan?

Lalu, bagaimana sih adab dalam berdo’a yang seharusnya kita lakukan sebelum, saat sedang atau setelah berdo’a? Mengenai adab ini, masih banyak di antara umat muslim yang belum memperhatikannya dengan baik. Padahal sejatinya jika kita benar-benar membutuhkan sesuatu dari seseorang, secara otomatis kita akan berusaha ‘tampil terbaik’ sesuai selera orang yang akan kita minta tolong itu. Lalu bagaimanakah dengan Allah? Pasti adab berdo’a itu menjadi penting lagi.

Berikut ini adalah adab-adab dalam berdoa yang penulis kutip dari ceramah, ditambah dengan sedikit pengetahuan yang kami miliki.

  1. Mencari waktu yang mustajab. Di antara waktu yang mustajab adalah: hari Arafah, sepanjang hari di bulan Ramadhan, sore hari Jum’at, dan waktu sahur (sepertiga malam terakhir).
  2. Memanfaatkan keadaan yang mustajab untuk berdoa. Di antara keadaan yang mustajab untuk berdoa adalah: ketika perang/jihad fi sabilillah, saat turun hujan, ketika sujud dalam shalat, antara adzan dan iqamah atau ketika dizhalimi (sebaiknya doakan kebaikan saja).
  3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan
  4. Dengan suara lirih dan tidak dikeraskan
  5. Tidak dibuat bersajak (berlebih-lebihan dalam membuat kalimat dan dengan dipaksakan bersajak), dan doa yang terbaik adalah doa yang ada di dalam Al Qur’an dan doa yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  6. Khusyu’, merendahkan hati dan penuh harap kepada Allah
  7. Memantapkan hati dalam berdoa. Dari Hadits Muttafaqun ‘Alaihi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang berdoa dengan mengatakan: Yaa Allah, ampunilah aku jika Engkau mau. Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau mau. Hendaknya dia mantapkan keinginannya karena tidak ada yang memaksa Allah.
  8. Berkeyakinan untuk dikabulkan, yang berarti hatinya sadar bahwa dia sedang meminta sesuatu. Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah dengan doanya, ini menurut hadits riwayat Tirmidzi. Sayangnya ini masih sering terjadi pada umat muslim Indonesia. Lantaran kita belum paham bahasa Arab sehingga tidak tahu isi doa yang kita ucapkan. Maka sebaiknya, kita pun berusaha menghafal, minimal mengetahui maksud atau makna doa yang kita panjatkan.
  9. Mengulang-ngulang doa dan merengek-rengek dalam berdoa. Misalnya: Yaa Allah, ampunilah hamba-Mu, ampunilah hamba-Mu, ampunilah hamba-Mu yang penuh dosa ini. Ampunilah yaa Allah. Diulang-ulang permohonannya, karena semacam ini menunjukkan kesungguhan dalam berdoa. Ibnu Mas’ud mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau berdoa, beliau mengulangi tiga kali. Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulang tiga kali.
  10. Tidak tergesa-gesa agar segera dikabulkan dan menghindari perasaan berburuk sangka kepada Allah
  11. Memulai doa dengan memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagian dari adab ketika memohon dan meminta adalah memuji Dzat yang diminta.
  12. Perbaiki hubungan dengan Allah, memperbanyak taubat dan memohon ampun kepada Allah. Korelasinya, jika seseorang banyak mendekatkan diri kepada Allah maka ini akan menjadi sarana terbesar untuk mendapatkan cintanya Allah. Dengan dicintai Allah, doa seseorang akan mudah dikabulkan. Di antara amal yang sangat dicintai Allah adalah melakukan apa yang diwajibkannya.
  13. Hindari mendoakan keburukan, baik untuk diri sendiri, anak, keluarga, hartanya maupun muslim lain.
  14. Menghindari makanan dan harta haram

Mungkin ada di antara kita yang telah banyak berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh tetapi ternyata Allah belum mengabulkan doanya. Padahal semua sebab-sebab dikabulkan doa telah dilakukannya, seperti: ikhlas dan tidak berbuat syirik, melakukan adab-adab dalam berdoa, meninggalkan maksiat dan bertaubat dan mengerjakan ketaatan. Tetapi mengapa belum kunjung dikabulkan?

Sahabat, kita harus meyakini bahwa Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu dan janjinya adalah benar. Allah telah berjanji di dalam Al Qur’an bahwa Dia akan mengabulkan setiap doa yang ditujukan kepada-Nya. Tetapi kita juga harus yakin bahwa Allah itu Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Bisa jadi apa yang kita minta itu sesungguhnya tidaklah baik untuk diri kita sendiri. Misalkan seseorang yang berdoa kepada Allah untuk diberikan harta kekayaan berupa mobil. Tetapi Allah tidak mengabulkannya, maka boleh jadi jika Allah memberikannya mobil maka orang tersebut justru akan menjauh dari Allah, atau dia akan mengalami kecelakaan, atau apapun yang masalah ghaib di masa depan itu sejatinya hanya Allah Yang Maha Tahu.

عَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. Al-Baqarah (2): 216)

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat.Hendaknya kita selalu berprasangka baik terhadap setiap keputusan yang Allah berikan di dalam hidup kita. Manusia itu meman perencana dan pengusaha, tetapi Allah lah, dialah penulis skenario terbaik :) Betapa banyak karunia dan nikmat yang terkandung pada hal-hal yang tidak disukai dari diri kita. Akan tetapi, firman Allah Yang Maha Agung tentu lebih tepat.

 

Dikutip dari kajian singkat oleh Ustaz Fathurrahman (29 Dzulqo’idah 1437H) di bumi Sipil ITB

*Sampaikanlah walau satu ayat :)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s