Tentang Empati: “Aku Peduli”

Segala puji bagi Allah. Kita memuji, meminta pertolongan, dan memohon ampunan kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan diri dan dari keburukan amal-amal kita. Siapa yang Dia beri petunjuk maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan maka tidak akan ada yang bisa memberinya hidayah (petunjuk).

Aku bersaksi bahwa tiada illah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Teman-teman saudara seiman. Pada tulisan ini, saya akan menuliskan sedikit sharing tentang empati dalam Islam. (1) Bagaimana Islam itu sebenarnya adalah agama yang penuh dengan rasa kepedulian. (2) Lalu, apakah hukumnya bagi seorang muslim untuk memiliki rasa empati ini? (3) Kepada siapa saja seorang muslim harus berempati? (4) Dan bagaimana cara seorang muslim untuk membiasakan peduli terhadap hal-hal yang baik?

Sebelum menjawab semua pertanyaan itu, ada baiknya kita juga mengetahui arti kata dari empati. Empati adalah bukan sekedar bersimpati kepada orang, tapi sudah pada tahapan seakan-akan kita sendiri yang mengalaminya. Turut merasakan.

Irama kehidupan yang kita alami tak jarang membuat kita agak terlena kepada saudara kita yang lain. Kita sibuk mengurus diri sendiri tanpa sempat menoleh di sekeliling lingkungan. Sementara banyak sekali peristiwa-peristiwa yang dapat menjadi ladang amal, ketika kita mau turut serta atau berpartisipasi di dalamnya dengan ikhlash karena Allah. sekecil apapun.

Berbagai ujian dan cobaan terasa seperti gelombang yang tiada berujung, saling susul menyusul, seolah-olah menguji seberapa besar empati dan kepedulian kita kepada sesama. Ya, jika kita mau jujur. Masalah ini bisa kita selesaikan dengan baik dan cepat jika kita mau saling peduli, saling membantu dalam kebaikan. Ada berapa banyak orang miskin yang tertinggal jika seluruh orang kaya di dunia mau peduli? Sesungguhnya Islam ini adalah agama yang penuh rasa kepedulian, ia adalah rahmatan lil ‘alamin karena mengharuskan pemeluknya untuk berbuat baik. Perintah untuk peduli dan saling tolong-menolong ini telah berulang kali diingatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya. (Al-Maidah (5): 2)

Tolong-menolong dalam kebaikan ini bisa menjadi sarana menumbuhkan empati dalam jiwa seorang muslim, ia adalah wujud dari akhlaq yang sifatnya hablumminannas yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Seorang muslim diajarkan untuk selalu berbagi dalam kedaan lapang maupun sempit, sebagaimana dia ingin dirinya dibantu oleh Allah dalam setiap keadaan.

Dalam hadits shahih riwayat Bukhari Nomor: 2262, Kitab: 29 (Perbuatan-perbuatan zhalim dan merampok), Bab: 1502 (Seorang muslim tidak boleh menzhalimi Muslim lainnya, juga tidak membiarkannya untuk disakiti), disebutkan bahwa: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab bahwa Salim mengabarkannya bahwa ‘Abdullah bin ‘umar radhiallahu ‘anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari Qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari Qiyamat.”

Juga dalam riwayat Bukhari yang lain, Nomor: 2266, masih pada Kitab yang sama, Bab: 1504 (Menolong orang yang terzhalimi), disebutkan bahwa: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Alaa telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Orang beriman terhadap orang beriman lainnya bagaikan satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” Dan Beliau mendemonstrasikannya dengan cara mengepalkan jari-jemari Beliau.”

Lebih rinci lagi pada hadits shahih riwayat Muslim Nomor: 4650, Kitab: 46 (Berbuat baik, menyambung silaturahmi dan adab), Bab: 1229 (Haramnya berlaku zhalim kepada sesama muslim, menghina dan …) yang tertulis (dipersingkat riwayatnya oleh penulis): dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling membenci dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang berjual-beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim yang lainnya adalah bersaudara, tidak boleh menyakiti, merendahkan ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya). Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang lainnya haram darahnya, hartanya dan kehormatannya.”

Kemudian perawi menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Daud, dengan sedikit penambahan dan pengurangan. Diantara tambahannya adalah; “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian. (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).”

Dari beberapa dalil shahih tersebut, kita bisa ambil pelajaran bahwa Islam sangat menganjurkan kepedulian sosial terhadap sesama manusia, khususnya terhadap sesama muslim.  Kepedulian atau sikap empati dalam Islam dicontohkan dalam beberapa kisah sejarah yang telah tertulis.

Sejarah membuktikan rasa empati sesama muslim mampu menembus kegelapan peradaban dunia sehingga syiar Islam dapat menerangi cahaya di seluruh bumi. Ini pernah dilakukan oleh kaum Anshar yang merupakan penduduk Madinah dengan menerima kedatangan tamu kaum Muhajirin secara terbuka dan penuh kasih sayang. Sikap empati yang ditunjukkan kaum Anshar kepada kaum pendatang Muhajirin dibuktikan dengan mengikhlaskan rumah-rumah tempat tinggal mereka untuk ditempati oleh kaum Muhajirin tanpa ada sedikit pun perasaan khawatir, padahal sebelumnya mereka tidak kenal sama sekali. Tanpa sikap empati yang besar, persaudaraan antara mereka tidak akan pernah terjalin.

Melapangkan penderitaan sesama muslim dengan mampu menyelami keadaan jiwanya dapat membuat hati saudara kita menjadi tenang. Ketenangan hati ini akan membawa pada kejernihan jiwa dalam memandang sebuah permasalahan sehingga hati kita akan semakin menyadari banyak hikmah di setiap penderitaan, dan juga mampu merasakan apa yang dirasa oleh saudara kita yang kurang beruntung.

Ini juga dapat menjadi cerminan pribadi seorang muslim yang sempurna selaras dengan tujuan Islam. Penderitaan sebesar apapun yang menimpa saudara kita, jika kita menunjukkan sikap berempati dengannya, akan dapat meringankan beban pikirannya, ibarat oase di tengah padang pasir yang akan selalu ditunggu :)

Sesungguhnya saat ini adalah waktu yang tepat untuk mulai mengasah sikap empati kita kepada kaum muslim. Di tengah kebisuan dan ketumpulan hati sebagian besar masyarakat, akibat deraan permasalahan hidup yang menumpuk, empati dapat menjadi pelumas yang melicinkan tumbuhnya rasa kasih sayang, juga menjadi penyubur persemaian bibit-bibit cinta kasih di ladang hati kita.

Seseorang telah datang menemui Rasulullah SAW dan telah menceritakan tentang kelaparan yang dialaminya. Kebetulan pada ketika itu baginda tidak mempunyai makanan. Baginda Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada para sabahat, “Adakah diantara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tamu malam ini untukku?” Seorang dari kaum Anshar menyahut, “Wahai Rasullah, saya sanggup melakukannya”.

Orang Anshar itu membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada istrinya seraya berkata, “Beliau adalah tamu Rasulullah kita mesti melayaninya dengan sebaik-baiknya.” Lalu istrinya menjawa, “Demi Allah! Sebenarnya aku tidak menyimpan makanan apapun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita. Orang Anshar itu pun berkata, “Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbincang-bincang dengan tamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamkanlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tamu itu tidak mengetahui bahwa saya tidak makan bersamanya.”

Begitu besar pancaran cinta kasih dari dalam hari orang Anshar tersebut, membuat sebuah keluarga merelakan untuk berkorban, demi saudara lain yang lebih membutuhkan. Jika sikap empati kepada orang lain ini menjadi bagian dari sikap keseharian muslim, beban dan tekanan semula menjadi penyakit mematikan dapat berubah menjadi kesembuhan.

Ada banyak contoh kisah pada jaman Rasulullah yang dapat kita jadikan pelajaran dalam memupuk rasa empati ini. Misalnya saja kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan mukjizat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dapat membuat susu yang tadinya sedikit menjadi cukup bahkan lebih. Atau kisah seorang Arab Badui yang tiba-tiba saja datang ke mesjid dan kencing di dalamnya tanpa merasa bersalah, tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru menasehatinya dengan lembut tanpa marah. Atau kisah seorang pemuda yang mendapat kafarat puasa karena berjima’ dengan istrinya di waktu siang Ramadhan. Atau kisah tangisan bayi saat shalat jamaah sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersingkat bacaan suratnya supaya ibu sang bayi tidak gelisah. Atau bagaimana akhirnya perintah siwak menjadi sunnah dan bagaimana Allah dan Rasul-Nya mengharamkan khamr secara bertahap. Ini semua merupakan bentuk-bentuk empati terhadap sesama.

Seperti desain yang optimal dan konservatif: mencari suatu batas kemampuan yang kita semua sama-sama mampu memikulnya.

Dari beberapa kisah tersebut, disimpulkan bahwa Islam adalah agama yang sangat mengedepankan kepedulian. Al-Qur’an adalah akhlaq Nabi, dan ketika Allah memerintahkan di dalam kitab-Nya untuk berbuat baik terhadap sesama maka empati ini merupakan salah satu akhlaq Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga kita sebagai umatnya, merupakan suatu kewajiban bagi kita untuk senantiasa peduli, baik kepada diri sendiri, sesama teman, orang tua, lingkungan sekitar, bangsa, dan tentunya agama.

Bisa dimulai dari yang paling sederhana. Yaitu dengan peduli terhadap diri sendiri, dengan berusaha untuk memenuhi hak-hak tubuh. Termasuk memelihara diri dari api neraka dan siksa kubur. Jika terhadap diri sendiri, kita sudah bersikap kasih dan sayang maka kepada orang lain juga kita kembangkan sikap yang sama. Kasih sayang ini yang akan mengarahkan kita kepada sikap saling menghormati kemampuan dan keterbatasan orang lain.

<bersambung, insyaa Allah>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s