Marina Barrage, Si Bendungan Gerak

“Belajar bisa dari siapa saja, bahkan dari seorang anak kecil sekalipun.”

Kalimat ini rupanya sangat sesuai dengan negara Singapura. Luasnya yang hanya sekitar 718,3 km2 memang tak seberapa jika dibandingkan dengan Indonesia, bahkan ia lebih kecil dari kota Jakarta yang seluas 740,3 km2. Walaupun badannya kecil, Singapura sanggup menjadi pusat keuangan terdepan keempat di dunia dan beberapa penghargaan lainnya. Sebuah contoh yang seharusnya dapat memotivasi Indonesia untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Mengapa ada Marina Barrage? (non-teknis)

Sejak resmi terlepas dari Federasi Malaysia pada tahun 1965, Singapura, di bawah kepengurusan Perdana Menteri Lee Kuan Yew mengawali pembangunan negara dengan tiga fokus utama, yakni pemusnahan budaya korupsi, pembangunan infrastruktur publik, dan disiplin terhadap kebersihan.

Rupanya memang tidak mudah, masalah yang muncul di Singapura pada awal-awal pembangunan bukan hanya tentang sosial saja, tetapi juga masalah sumber daya alamnya yang sedikit. Air yang tersedia tidak cukup bersih karena kondisi tanah yang berlumpur membuat kualitas air tanah seperti air lumpur sehingga tidak layak diminum, dan kalaupun musim hujan terjadi maka air tawar yang tertampung sangat sedikit akibat kurangnya lahan resapan air. Masalah lainnya, saat musim pasang tiba, permukaan laut akan meningkat dengan kekuatan ombak yang besar seakan-akan siap mengagetkan isi kota dengan banjir kirimannya yang menghanyutkan. Jadi, dulunya negara kecil ini seakan diteror oleh masalah keairan, dari sisi dalam oleh kekurangan air bersih padahal dari sisi luarnya ia dikelilingi air laut melimpah dan saking melimpahnya bisa jadi ancaman baru. Dengan peningkatan populasi manusia dan wilayah yang sempit menjadikan masalah air bersih ini adalah masalah yang serius dan harus segera diselesaikan.

Uniknya, Singapura memiliki empat sistem sebagai solusi penyelesaian masalah air bersih. Sistem yang pertama adalah sistem pemanfaatan air hujan. Secara sederhana, siklus air dimulai dari penguapan air laut naik ke atas, berkumpul membentuk awan, kemudian tertiup angin dan terbawa hingga ke suatu daratan dan hujan. Manusia mengumpulkan air hujan sebagai air tawar yang siap diolah untuk air minum, sehingga solusi untuk masalah kekurangan air bersih di Singapura adalah dengan menampung air tawar yang berasal dari air hujan sebanyak-banyaknya sebelum dia mengalir menuju laut dan menjadi asin. Untuk mendukung sistem ini, dibuatlah sebanyak 17 reservoir yang masing-masing terintegrasi melalui ±8000 kanal tertutup di bawah tanah yang siap mengalirkan air hujan dari setiap wilayah di Singapura. Salah satu reservoirnya, yaitu Marina Barrage menjadi icon wisata yang menyenangkan di Singapura. Dengan begitu, diharapkan pengumpulan air menjadi efisien dan efektif mencapai tujuan mengupulkan air tawar secara optimal dan mengendalikan kelebihan air yang dulu sering terjadi.

Sistem yang kedua, adalah sistem impor. Karena wilayahnya yang kecil dengan populasi manusia yang semakin padat, Singapura membentuk kerjasama dengan Malaysia untuk mengimpor air bersih dari Malaysia ke Singapura. Sistem ini dibentuk untuk lebih menjamin ketersediaan air bersih di Singapura sehingga resiko kekurangan air bersih dapat diturunkan. Namun, sistem yang kedua ini mulai dikurangi semenjak dibentuknya sistem yang ketiga, yaitu pengolahan kembali limbah air domestik melalui pabrik air berteknologi canggih, so they called it as a New Water.

Sistem penyediaan air bersih yang keempat adalah sistem pemanfaatan air laut. Ini ide yang masih sangat jarang diterapkan di suatu negara sebagai solusi penyediaan air bersih. Di Indonesia misalnya, kebanyakan badan air mengandalkan air tanah sebagai solusi terhadap penyediaan air bersih padahal peluang keberlanjutannya semakin berkurang akibat kecepatan pengaliran air di dalam tanah membutuhkan waktu yang sangat lama, sekitar 100 tahun. Sistem pemanfaatan air laut diharapkan menjadi sistem yang sustainable karena 71% air di dunia berada di dalam laut dan sisanya di daratan. Melalui proses desalinasi, kadar garam berlebih pada air laut dapat dihilangkan sehingga menjadi air tawar yang siap diminum.

Ke-empat sistem penyediaan air bersih ini dapat dikatakan sukses mencukupi kebutuhan air masyarakat Singapura, sesuatu yang selayaknya kita mulai di Indonesia. So then everyone in Indonesia will say, “I also have another Marina and a New Water!” :)

Bagaimana Marina Barrage bekerja? (teknis)

Marina Barrage merupakan bendungan bergerak yang dibangun di ujung pintu kanal Marina, di pinggir pusat kota dekat dengan laut. Daerah aliran sungai seluas 10,000 hektar atau sekitar seperenam luas Singapura menjadikan DAS Marina adalah yang terbesar di Singapura. Marina Barrage mengumpulkan air dari lima saluran penting yaitu, Sungai Singapura, Stamford Canal, Rochor Canal, Sungai Kallang, dan Sungai Geylang. Kemudian dengan adanya sistem integrasi yang baik antarreservoir meningkatkan volume penyediaan air bersih di Singapura sebanyak dua per tiga wilayah pada tahun 2011 yang lalu.

Sama halnya dengan bendungan pada umumnya, manfaat Marina Barrage ini ada tiga yang utama, yaitu sebagai sumber air bersih, pengendali banjir, dan tempat wisata. Namun yang menjadikannya istimewa adalah bagaimana insinyur membangun Marina Barrage dan menghiasinya menjadi menarik untuk dipelajari.

Proyek bendungan yang dikomisi oleh PUB, Badan Air Nasional di Singapura, ini berfungsi untuk membantu menahan pasang air laut dan mengatasi persoalan banjir di beberapa daerah yang letaknya lebih rendah seperti di Chinatown, Boat Quay, Jalan Besar dan Geylang. Damnya terdiri atas sembilan gerbang air yang terbuat dari baja masing-masing lebarnya 30 meter dan tinggi 5 meter, yang dibangun memanjang sekitar 350 meter. Pintu airnya bersifat otomatis dengan memegang prinsip adanya perbedaan tinggi muka air. Jika di musim hujan, air yang tertampung pada reservoir melebihi kapasitas maka pintu air akan secara otomatis terbuka (menyerong ke atas) sehingga air akan dialirkan menuju ke laut. Namun, jika kondisi air laut sedang pasang artinya permukaannya bisa jadi lebih tinggi daripada permukaan di reservoir maka pintu air tidak bisa terbuka. Hal ini diselesaikan dengan penyediaan tujuh pompa drainase yang disimpan di pinggir reservoar. Masing-masinng pompa ini memiliki kapasitas seperti mengosongkan kolam renang yang sering digunakan pada Olimpiade dalam waktu satu menit, berfungsi untuk memompa air berlebih di reservoir dan dialirkan ke laut.

Marina Barrage menyediakan fasilitas kolam air raksasa bagi penduduk Singapura sehingga hal ini dapat dimanfaatkan untuk beberapa jenis olahraga air seperti boating, windsurfing, kayaking dan dragonboating. Selain itu, atap gedung Visitor Centre yang terbungkus rapih oleh rumput juga menjadi situs populer untuk rekreasi.

Dengan pemanfaatan setiap struktur dan ruang di sekitar Marina Barrage, tempat ini menjadi salah satu contoh pembangunan yang berkelanjutan lingkungan. What a sustainability development it is!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s