Ulang Tahun dalam Islam

Kawan, aku ingin bercerita tentang sebuah hari. Hari itu dianggap spesial. Saking istimewanya sampai-sampai setiap orang berdebar-debar menyambut paginya. Ada yang berharap mendapat hadiah istimewa dari orang-orang di sekelilingnya, berarti ada saja pihak yang harus berkorban untuk membeli atau membuat hadiah yang berkesan. Ada yang berharap mendapat traktiran ada yang cemas tak mempunyai uang untuk mentraktir. Hari itu pokoknya ceritanya macam-macam. Setiap orang seakan dibuat sibuk menyambutnya, membuat kejutan demi merayakan satu hari: Ulang Tahun.

Yaa, walaupun sebatas membaca beribu-ribu ucapan ‘selamat’ kepada si aktor yang berulang tahun di beberapa grup media sosial atau menyanyikan lagu ‘Happy Birthday’ yang bila diartikan ke dalam bahasa ibu kita adalah ‘Selamat Ulang Tahun’. Anehnya, aku benar-benar belum mengerti asal-usul budaya itu dari mana. Ada satu pertanyaan yang menggantung di benakku sedari dulu, apakah sebatas ini ulang tahun itu?

Bukankah Islam mengajarkanku untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya karena setiap waktu itu berharga? Setiap nafas yang kuhembuskan, setiap butir sel darah yang terpompa oleh jantung, juga setiap respon yang berhasil diterima oleh alat indra untuk kemudian diekspresikan melalui bagian reseptor. Bukankah semuanya itu patut untuk kita syukuri? Allah telah memberikan nikmat-Nya untukmu setiap waktu dan Dia tidak pernah lengah memerhatikanmu. Mengapa kita harus merelakan waktu-waktu lain hanya untuk satu hari?

Petanyaan ini semakin menarik dengan pertanyaan baru, bagaimana Islam memandang ulang tahun? Apakah Allah ridha jika aku turut menyemarakkan tradisi baru merayakan hari ulang tahun ini? Hmm ini ilmu yang baru kupelajari, rasanya bahagia untuk bisa berbagi dengan saudara-saudariku melalui catatanku yang seadanya ini. Semoga bermanfaat :)

Well guys, ada dua kemungkinan, jika hari ulang tahun dihadapi dengan melakukan perayaan (misal: pesta atau acara makan besar, syukuran dan acara khusus lainnya).

Kemungkinan pertama

Perayaan tersebut dimaksudkan dalam rangka ibadah. Nah, yang termasuk ibadah di sini misalnya sebagai ritualisasi rasa syukur (walaupun dirayakan dengan doa-doa dan atau bacaan dzikir tertentu), atau bisa juga dengan ritual seperti mandi kembang tujuh rupa ataupun mandi dengan air biasa namun dengan keyakinan hal tersebut sebagai pembersih dosa-dosa yang telah lalu. Jika demikian maka perayaan ini masuk dalam kategori bid’ah yang sesat. Astaghfirullah :( mengapa hal ini bisa sampai kategori sedemikian gawat?

Hal ini karena syukur, doa, dzikir, istighfar (pembersih dosa) adalah bentuk-bentuk ibadah dan ibadah tidak boleh dibuat-buat sendiri bentuk ritualnya karena ia merupakan hak paten Allah yang disampaikan melalui Rasul-Nya. Jadi, kemungkinan pertama ini termasuk bentuk yang dilarang dalam agama, dengan dalil berikut.

من عمل عملا ليس عليه امر ناقهو رد

Orang yang melakukan ritual amal ibadah yang bukan berasal dari kami, maka amalnya tersebut tertolak. (HR Bukhari-Muslim)

Tidak hanya amalannya tertolak, orang yang membuat-buat ritual ibadah baru juga mendapat dosa karena perbuatan tersebut dicela oleh Allah, sebagaimana hadits berikut.

اناقرطكم عاى الحوض , ليرفعن الى رجا ل منكم حتى اذ ا اهويت لا ناولهم اختلجوا د ونى فاقو ل ا ى رب اصىحابى . يقول لا تد رى ما احد ثوا بعد ك

Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu’. (HR Bukhari nomor 7049)

Kemungkinan kedua

Perayaan ulang tahun ini dimaksudkan tidak dalam rangka ibadah, melainkan hanya tradisi, kebiasaan, adat atau mungkin hanya sekadar ‘have fun’. Bila demikian, sebelumnya perlu diketahui bahwa dalam Islam, hari yang dirayakan secara annually (berulang) disebut Ied. Dan perlu diingatkan kembali bahwa setiap kaum memiliki Ied masing-masing. Maka Islam pun memiliki Ied sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ان لكل قوم عيد ا وهذ ا عيد نا

Setiap kaum memiliki Ied, dan hari ini (Iedul Fitri) adalah Ied kita (kaum Muslimin). (HR Bukhari-Muslim)

Kemudian, Ied milik kaum muslimin telah ditetapkan oleh Allah melalui Rasul-Nya hanya ada dua, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha, juga hari Jumat sebagai hari raya mingguan. Nah, jika kita mengadakan hari perayaan tahunan yang tidak termasuk dalam kedua hari tersebut maka Ied milik kaum manakah yang kita rayakan? Yang pasti bukan milik kaum muslimin. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من تشبه بقو م فهو منهم

Orang yang meniru suatu kaum, ia seolah adalah bagian dari kaum tersebut. (HR Ab Dawud, dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Maka orang yang merayakan Ied selain Ied milik kaum muslimin seolah ia bukan bagian dari kaum muslimin. Namun, hadits ini tentunya bukan berarti orang yang berbuat demikian pasti keluar dari statusnya sebagai muslim. Tetapi perbuatannya itu minimal mengurangi kadar keislaman pada dirinya karena seorang muslim sejati tentu akan berusaha menjauhi hal tersebut. Bahkan Allah Ta’ala menyebutkan ciri hamba Allah yang sejati ‘ibaadurrahman’ salah satunya,

والذين لايشهد ون الز ورواذا مر وا باالغو مروا كر اما

Yaitu orang yang tidak ikut menyaksikan Az Zuur dan bila melewatinya ia berjalan dengan wibawa. (QS. Al Furqan: 72)

Rabi’ bin Anas dan Mujahid menafsirkan Az Zuur pada ayat di atas adalah perayaan milik kaum musyrikin. Sedangkan Ikrimah menafsirkan Az Zuur dengan permainan-permainan yang dilakukan pada masa Jahiliyah.

Demikian pandangan Islam tentang hari-hari raya selain Iedul Fitri, Iedul Adha dan hari Jum’at, termasuk salah satunya hari yang kita biasa kenal dengan sebutan ulang tahun. Hukum perayaannya sama juga dengan valentine, halloween, bahkan mother’s day, tahun baru, dan tahlilan untuk 100 hari setelah kematian. Pada kenyataannya di tempat kelahiranku, contohnya lebih banyak lagi karena kita orang Indonesia itu cenderung ‘sangat kreatif’ membuat tradisi dan budaya tetapi juga latah mengikuti budaya-budaya asing.

My friend, how is your feeling after reading this note? Feel afraid because of Allah? That’s good. Now, let’s move to the better place: Taubat untuk tidak lagi merayakan ulang tahun dan hari raya apapun di luar Ied kaum Muslimin. It means: Meminta maaf, belajar dan berubah menjadi lebih baik, selagi bisa.

Jika ada yang berkata, “Ada masalah apa dengan perayaan kaum nonmuslim (musyrikin)? Toh tidak berbahaya jika kita mengikutinya atau sekadar mengucapkan selamat pada mereka…” Seorang hamba memang bisa saja berbuat salah, tetapi berani berselingkuh atau berkhianat di depan majikannya itu teramat keterlaluan kan? Seorang muslim yang yakin bahwa hanya Allah sajalah sesembahan yang berhak disembah, sepatutnya ia membenci setiap penyembahan kepada selain Allah dan penganutnya. Salah satu yang wajib dibenci adalah kebiasaan dan tradisi mereka. Hal ini tercakup dalam ayat,

لاتجد قوما يومنو ن باالله واليو م الا خريوا دون من حا د اللهورسوله

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al Mujadalah: 22)

Ingat juga, membenci di sini bukan berarti aku dan kamu (saudara muslimku) langsung memasang wajah kebencian di hadapan orang-orang nonmuslim atau secara terang-terangan mengangkat senjata pada mereka. Tidak. Ingatlah, ada tingkatan-tingkatan kafir yang harus kita pelajari. Manakah kaum yang pantas untuk kita perangi dan manakah kaum yang harus kita hormati dan junjung tinggi haknya demi sebuah ikatan perjanjian atas nama Allah :)

Selain itu, ada yang unik di hari perayaan ulang tahun ini. Biasanya orang yang berulang tahun dipersilahkan untuk berdoa tentang semua yang diharapkannya. Daaan, doa yang paling sering terucap adalah: panjang umur, baru kemudian wish you all the best, God bless you dan lain sebagainya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatan-Nya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya.

Karena itulah, dinukil dari terjemah Fatawa Manarul Islam 1/43, di almanhaj.or.id, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan, “Semoga Allah memanjangkan umurmu”, kecuali dengan keterangan, “dalam ketaatan-Nya,” atau “dalam kebaikan,” atau kalimat yang serupa dengannya. Alasannya, jelas, umur panjang kadang kala tidak baik bagi yang bersangkutan jika disertai dengan amalan yang buruk (Semoga Allah menjauhkan kita darinya) karena itu hanya akan membawa keburukan baginya serta menambah siksaan dan malapetaka”.

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap satu tahun sekali. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan.

Wallahu’alam.

Advertisements

2 thoughts on “Ulang Tahun dalam Islam

  1. Pingback: Perayaan Maulid Nabi, Bolehkah? | Al-Haya

  2. Pingback: Perayaan Maulid Nabi, Bolehkah? | Al Haya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s